Doa Solusi dari masalah hidup dan kegelapan yang kita hadapi
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Diriwayatkan dari Asma binti Umais Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadaku:
ألَا أُعلِّمكِ كلماتٍ تقولينهن عند الكرب، أو في الكرب؟
الله الله ربي، لا أشرك به شيئًا
‘Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat untuk kamu ucapkan ketika terjadi musibah atau ketika kamu dalam musibah? Yaitu: Allah! Allah! Tuhanku! Aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun!’” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dulu ketika tertimpa musibah senantiasa mengucapkan:
لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
(Laa ilaaha illallahul ‘azhiimul haliim. Laa ilaaha illallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim)
“Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhannya arsy yang agung. Tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan langit-langit, Tuhan bumi, dan Tuhan arsy yang agung lagi mulia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan lainnya disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
ما أصاب أحدًا قطُّ همٌّ ولا حزن فقال:
اللّهُـمَّ إِنِّي عَبْـدُكَ ابْنُ عَبْـدِكَ ابْنُ أَمَتِـكَ نَاصِيَتِي بِيَـدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤكَ أَسْأَلُـكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّـيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْـتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِـكَ أِوْ أَنْزَلْتَـهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَـأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْـبِ عِنْـدَكَ أَنْ تَجْـعَلَ القُرْآنَ رَبِيـعَ قَلْبِـي وَنورَ صَـدْرِي وجَلَاءَ حُـزْنِي وذَهَابَ هَمِّـي
إلا أذهب الله همَّه وحزنه، وأبدله مكانه فرحًا، قال: فقيل: يا رسول الله، ألَا نتعلمها؟ فقال: بلى، ينبغي لمن سمعها أن يتعلمها
“Tidaklah ada seorang pun yang tertimpa kegalauan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan:
ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA IBNU ‘ABDIKA IBNU AMATIKA, NAASIYATII BIYADIKA, MAADHIN FIYYA HUKMUKA, ‘ADLUN FIYYA QADHAA-UKA, AS-ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA, SAMMAITA BIHI NAFSAKA, AU ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA, AU ANZALTAHU FII KITAABIKA, AWISTA’TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA AN TAJ’ALAL QUR’AANA RABII’A QALBII WA NUURA SHADRI WA JALAA-A HUZNII WA DZAHAABA HAMMII
(Ya Allah, Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu yang laki-laki dan hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, ketetapan-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu adil untukku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu, yang Engkau namakan sendiri diri-Mu dengannya, yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu gaib-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penghibur hatiku, cahaya sanubariku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegalauanku) Melainkan Allah akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya, dan Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan.” Kemudian Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Ya, orang yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR. Ahmad dan lainnya).
اللهم إني ظلمت نفسي ظلمًا كثيرًا، ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم
“ALLAAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, FAGHFIR LII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII, INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM.
(Ya Allah, Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).